Tampilkan postingan dengan label renungan qalbu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan qalbu. Tampilkan semua postingan

Aku Malu

Aku malu aku mengaku muslim, aku malu mengaku mencintai agama ini, aku malu mencintai Nabi Muhammad, bagaiamana tidak malu? bagaiamana kita harusnya berbangga dengan kebiodohan ini?aku malu dan mungkin seharusnya kita semuanya malu, aku semakin lama semakin bodoh terhadap Agama ini, bagaiaman kelak?apa yang harus aku bawa? bagaiaman aku jadi seorang muslim yang baik? Ya Alloh aku benar2 malu,

Malu seharusnya aku malu betapa jauh aku dari yang namanya paham, seharusnya kita merasa malu, jikalau saya ditanya saat ini hafal berapa hadits tentunya dapat dihitung dengan jari tangan, jika ditanya saya mencintai Nabi Muhammad tentu saya jawab cinta tapi ketika ditanya siapa saja nama anak Rasullah?, siapa saja nama istri-istri Rasulullah? aku terdiam terpaku terpana. Demi Alloh saya benar-benar malu seharusnya saya tahu karena bagaimana saya bisa mencintai Beliau sedang aku tak tahu apa-apa tentang kehidupan Rasulullah, seharusnya ini pelajaran waktu saya kecil tapi aku telah lupa dan melupakan,

Ya Allah aku takut lebih mencintai hamba yang lain dibanding Nabi Muhammad dan para Sahabatnya.
Ya Allah aku takut, jangan jadikan aku termasuk goloongan orang yang mencintai orang yang tidak pantas kami cintai, jangan jadikan aku paham dan kenal dekat dengan orang-orang yang tidak pantas kami cintai yang kelak di akhirat ia menuntun kami ke neraka,

Ya Allah jangan jadikan aku golongan yang rugi karena dalam
pertemanan seperti perumpamaan kami yang pernah diceritakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits "penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamubisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium ban wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“.
Ya Allah jangan jadikan kami orang yang merugi apalagi di akhirat kelak,,

Ya Allah jagalah aku, jagalah saudara-saudara kami dari kekeliruan mencintai orang-orang yang tidak pantas kami cintai karena Engkau dan karena kebaikan kami di akhirat, Ya Allah betapa banyak saudaraku yang mencintai orang yang tidak pantas mereka berikan cintanya kepada orang itu, ketika ditanya kepada mereka kemana orang yang mereka cintai akan membawa mereka kelak diakhirat mereka pasti menjawab mereka akan membawa ke neraka, betapa banyak saudara kami didalam rumah mereka ada foto-foto orang-orang yang tidak pantas mereka cintai, betapa banyak saudara kami didalam ponsel mereka, dalam Notebook mereka, dalam PC mereka menyimpan foto-foto yang tidak pantas mereka cintai, sangat banyak dalam pakaian mereka yang mereka pakai banyak memajanag foto orang yang tidak pantas dicintai, betapa banyak dirumah-dirumah kami disuguhi tontonan orang-orang yang tidak pantas kami cintai, namun anehnya kami lebih paham mereka dibanding Nabi-Mu, kami lebih mengenal cerita dan biografi mereka dibanding biografi Nabi Muhammad dan para sahabat,

Seandainya kami di Uji maka kami tidak akan pernah lulus dari ujianMu. Ya Alloh selamatkanlah  kami dari kejahilan ini. Wallahu'alam
»»  READMORE...

HAMPIR SAJA AKU TERJERUMUS

HAMPIR SAJA AKU TERJERUMUS
Seorang pemuda bercerita kepadaku:
Aku memiliki seorang teman, dia adalah seorang pemuda yang suka hura-hura dan termasuk seorang pemuda yang memiliki hubungan percintaan dengan seorang wanita. Aku masih ingat, setelah aku selesai dari sekolahku aku menganggur beberapa waktu di rumah.
Dan pada suatu hari dari tahun ajaran baru, aku didatangi oleh temanku tersebut pada pagi hari; pada waktu jam sekolah. Aku mempersilahkannya untuk duduk di ruang tamu, lalu aku pergi hendak membuatkan teh. Ketika aku melihat keluar aku tidak mendapatkan mobilnya. Maka aku bertanya:’Wahai fulan, dimana mobilmu?’, maka dia menjawab: “AKu sembunyikan disebelah rumahmu”. Akupun merasa keheranan dari tingkah lakunya ini. Lalu aku berkata: “Memang kenapa tidak engkau parkir saja di depan rumah?”
Dia berkata: “Aku membawa seorang pacar baru!!” Aku berkata lagi: “Lalu kenapa engkau bawa kemari?” Dia menjawab: “Dia adalah seorang pelajar di sebuah sekolahan, aku membawanya semenjak jam masuk sekolah, dan aku sekarang sedang menunggu saat bel keluar sekolah, saat itulah aku akan turunkan dia di depan sekolahan, lalu dia naik bus sekolah, seakan-akan dia pulang sekolah.”
Aku meminta izin darinya, seakan-akan aku akan masuk rumah, lalu aku keluar ke samping rumah menuju ke mobilnya. Dan ketika aku sampai di mobilnya, ternyata ada seorang gadis yang masih bau kencur di dalamnya, belum sampai berumur lima belas tahun!! Maka aku berkata kepadanya – dan aku sangat kasihan terhadapnya, karena umurnya yang terlalu muda dan karena bodohnya dia akan apa yang diinginkan darinya pada permainan nista ini – : “Apa yang menyebabkan engkau datang kemari?”
Dia berkata: “Sesungguhnya fulan mencintaiku dan menjanjikan untuk menikahiku.”
Maka aku berkata kepadanya: Perhatikan baik-baik kata-kataku: ”Walaupun dia adalah temanku dan aku terikat oleh tali persahabatan yang erat, akan tetapi ini semua tidak menghalangiku untuk memberikan nasehat, kalau engkau terima dan kalau tidak, ya terserah… “

Ingat kepercayaan yang diberikan oleh keluargamu, sehingga mereka tidak mengawasimu dengan ketat. Dan ingatlah akan jeleknya perbuatan yang sedang engkau lakukan, serta ketahuilah baik-baik bahwasannya engkau sedang dalam bahaya. Karena temanku sama sekali tidak memiliki pikiran untuk menikahimu (karena kami para pemuda, apabila mendapatkan gadis yang seperti kamu, tidak pernh berangan-angan untuk menjadikannya sebagai istri. Karena wanita yang sudah berani pergi bersama seorang pemuda asing darinya, serta telah mencabik-cabik tirai keluarganya, tidak pantas untuk dijadikan seorang istri. Mungkin saja dia akan melakukan hal yang sama dengan pria lain)…Kata-kataku ini hendaknya engkau pikirkan baik-baik, dan terserah kamu…
Lalu dia berkata: Setelah beberapa lama, kejadian yang sama terulang lagi dan aku di datangi oleh temanku, maka aku bertanya kepadanya: “Apakah dia kali ini bersamamu?” Dia menjawab: Ya.
Maka akupun keluar menemuinya lagi dan mengatakan kepadanya: Engkau belum mau memahami juga apa yang aku katakan kepadamu kala itu?! Aku memberikan peringatan kepadamu yang terakhir kali dari jalan yang engkau tempuh; Engkau sungguh dalam bahaya, dan kalau engkau bisa lolos kali ini engkau tidak akan bisa lolos pada masa yang akan datang. Dia akan merenggut darimu apa yang dia inginkan, lalu mencampakkanmu di pinggir jalan. Engkau akan merintih kesakitan, malu, dan tercemar seumur hidup.
Dia menjawab: Dia sangat mencintaiku dan akan menikahiku. Maka aku katakana kepadanya: ENgkau sangat dungu, dan tidak pantas untuk menjadi seorang istri, kelak engkau akan ingat kata-kataku ini!!!
Kejadian itu telah berlalu begitu lama, aku sampai lupa akan gadis tersebut, bahkan aku lupa sama sekali kejadian tersebut dan aku juga tidak tahu apa yang dialami oleh gadis tersebut setelah kejadian itu.
Pada suatu hari, aku didatangi oleh anak salah seorang tetangga, dan dia berkata: Surat ini dibawa oleh saudariku dari salah seorang temannya dalam bus, dan dia mengatakan: Tolong sampaikan surat ini kepada fulan!! Terus terang saja, aku sangat kaget dengan perlakuan ini dan aku merasa tidak percaya dari kejadian ini. Akan tetapi rasa heranku hilang ketika aku membuka surat itu. Ternyata surat itu adalah surat dari gadis itu, dia mengatakan:

“Aku sangat berterima kasih atas nasehatmu yang sangat berharga. Benar, apa yang engkau katakan kepadaku hampir saja terjadi. Pada kesempatan terakhir, ketika aku keluar rumah bersama lelaki bejat itu, dia berusaha untuk merenggut mahkota paling berharga yang aku miliki, lalu aku menangis sejadi-jadinya dan aku meminta darinya untuk mengembalikanku ke sekolah.
Setelah aku menangis dan mendesaknya serta meminta darinya dengan sangat, dia mengantarku ke sekolahan yang dia menjemputku darinya…Benar…hampir saja aku kehilangan kehormatanku, dan hampir saja aku menjadi korban permainan hina tersebut, dan hampir saja aku menjerumuskan kepalaku dan kepala keluargaku ke dalam lumpur…akan tetapi Allah menyelamatkanku…”.
»»  READMORE...

Silahkan ber-Zina!!

Silahkan Berzina............
“Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah semaumu!” Demikian suatu hari sang junjungan yang paling mulia, Nabi Muhammad SAW bersabda, yang mengingatkan agar kita selaku umatnya memiliki rasa malu. Malu dalam arti ketika melakukan sesuatu yang dilarang agama, bukan malu dalam melakukan kebaikan.

Tapi yang terjadi sekarang, banyak orang tidak malu atau bangga dalam melakukan kemaksiatan. Sungguh jauh dari perintah Rasulullah untuk malu ketika berbuat yang dilarang agama. Salah satu yang saat ini dibanggakan banyak orang adalah mendukung perbuatan zina. Entah dukungan terhadap hal yang mendekati zina, atau malah yang benar-benar mendukung perbuatan zina sungguhan. Na’udzubillah.

Untuk contoh perbuatan mendekati zina sudah menjadi makanan kita sehari-hari di jalan. Cukup banyak anak muda yang asyik masyuk berpelukan di atas kendaraan roda dua. Juga ada yang terang-terangan berduaan di sisi jalan raya. Saya yakin, mayoritas remaja itu rata-rata beragama Islam. Bahkan tidak jarang terdapat perempuan berjilbab, juga terjebak dalam aksi maksiat masal tersebut.

Yang kedua, hampir di seluruh media massa di hari-hari ini sibuk mendukung program (katanya) internasional yang menggalakkan perang terhadap HIV/AIDS. Puncaknya diperingati pada 1 Desember setiap tahun, yang disebut Hari AIDS Sedunia. Moto yang digaungkan, kampanye menggunakan kondom ketika melakukan hubungan agar tidak terjangkit virus yang membunuh orang secara perlahan itu.

Sungguh aneh. Bukannya program pelarangan untuk berhubungan bebas, malah menganjurkan berhubungan bebas. Namun, diembel-embeli harus menggunakan kondom agar tidak terjangkitHIV/AIDS!

Puncak kedahsyatan program kondom itu adalah pemberitaan media televisi pada Kamis, 13 Desember 2007 lalu, tentang adanya satu kontainer kondom impor masuk Indonesiayang berasal dari Jerman. Apakah satu peti raksasa itu akan dipergunakan untuk mendukung program menggunakan kondom atau tidak, saya kurang mengetahui pasti. Yang jelas dari informasi itu disebutkan, rencananya didaur ulang untuk digunakan di Indonesia.

Ada hal yang cukup membuat hati saya miris dan mungkin juga ada orang merasa seperti saya, jika membaca berita BPost edisi 3 Desember 2007 di halaman utama. Isinya, tentang serunya suasana sebuah lokasi (katanya) eks lokalisasi di Pembatuan Banjarbaru.

Tidak tanggung-tanggung, yang terjadi di sana ketika itu adalah Perlombaan Memasang Kondom yaitu dengan cara adu cepat memasang kondom ke suatu benda yang hampir mirip dengan (maaf) kemaluan laki-laki. Acara yang ‘seru’ itu digagas oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), didukung Pemko Banjarbaru dengan mengusung tema Kenakan Kondom atau Kena!

Semakin menyedihkan adalah salah satu dari kutipan dalam berita itu: ‘Selama lomba berlangsung, Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru dr Nurleny Saleh terus mengimbau penghuni lokalisasi itu menggunakan kondom saat melayani tamu, untuk mencegah penularanHIV/AIDS. “Semua orang bisa terkena virus itu, tetapi semua orang juga bisa mencegahnya. Salah satunya dengan menggunakan kondom dan tak ganti-ganti pasangan,” katanya.

Berita BPost edisi Rabu, 4 Desember 2007, Ketua TP PKK Kota Banjarbaru Hj Rosdiawati Rudy Resnawan menyatakan: “Sebenarnya Lomba Pasang Kondom dalam rangka Hari AIDS Sedunia itu, bertujuan menyosialisasi pencegahan penyebaranHIV/AIDS melalui penggunaan kondom bagi penghuni lokalisasi. Walau di sisi agama memang terkesan negatif, melegalkan kegiatan prostitusiyang dilakukan PSK. Namun tujuannya baik, terkait pemberantasan HIV/AIDS termasuk di Kota Banjarbaru.” Namun, menurut saya, hal itu tetap saja secara tidak langsung mengesahkan praktik zina dengan diperhalus melalui kondom.

Saya malah lebih mendukung pernyataan beberapa warga yang tercantum di BPost dalam Rubrik Apa Kata Mereka. Ada yang menyatakan, kampanye menggunakan kondom bukan solusi untuk memberantas HIV/AIDS. Kampanye besar-besaran yang seharusnya dilakukan untuk memberantas penyakit yang belum ditemukan obatnya itu, adalah kampanye menghindari perbuatan seks bebas atau zina.

Apakah kurang jelas firman Allah dalam QS Al-Israa’ ayat 17: Walaa taqrabuz zinaa, innahuu kaana faahisyataw wa saa’a sabiilaa. Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatanyang keji dan jalan yang buruk.

Dari ayat itu jelas mendekati zina saja dilarang oleh Allah, apalagi sampai menjerumuskan diri ke dalamnya. Jika pejabat dan publik figur yang berpendidikan saja menganjurkan PSK menggunakan kondom saat melayani tamunya, hal itu secara tidak langsung dan halus sama saja mengatakan kepada mereka dan juga masyarakat: “Silakan berzina!” Wallahu a’lam bish shawaab.
»»  READMORE...

ENGKAU DAN HAWA NAFSU

Seorang muslim hendaknya merenungkan mengenai diri dan hawa nafsunya.
Andaikan sampai berita kepada Anda bahwa seseorang telah mencaci maki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian orang lain mencaci maki Nabi Daus ‘alaihissalam. Sedangkan orang yang ketiga mencaci maki Umar atau Ali radhiyallahu ‘anhuma. Dan yang keempat mencaci maki syaikh Anda. Sementara orang yang kelima, mencaci maki syaikh orang lain.
Apakah amarah dan usaha Anda untuk memberikan hukuman dan pelajaran kepada mereka telah sesuai dengan ketentuan syari’at? Yakni apakah kemarahan Anda kepada orang pertama dan kedua hampir sama kadarnya, namun lebih dahsyat jika dibandingkan kepada yang lainnya? Apakah kemarahan Anda kepada orang yang ketiga lebih ringan kadarnya dibandingkan dua orang yang pertama namun lebih keras dibandingan dua sisanya? Apakah kemarahan Anda kepada orang yang keempat dan kelima hampir sama kadarnya, namun jauh lebih lunak dibandingkan dengan yang sebelumnya?
Misalkan pula Anda membaca sebuah ayat, kemudian nampak bagi Anda bahwa ayat tersebut sesuai dengan pendapat imam anda. Kemudian anda mendapati ayat lain dan nampak oleh anda dari ayat tersebut bahwa ia menyalahi ucapan yang lain dari imam anda tersebut. Apakah penilaian anda mengenai keduanya sama? Yaitu anda tidak akan peduli untuk mencari kejelasan dari dua ayat tersebut dengan mengkajinya secara seksama agar menjadi jelas benar atau tidaknya atas pemahaman anda tadi dengan cara membaca sepintas.
Misalkan pula anda mendapatkan dua hadits yang tidak anda ketahu shahih atau dho’ifnya. Salah satunya sesuai dengan pendapat imam anda sedangkan yang satunya lagi menyalahinya. Apakah pandangan anda terhadap dua hadits tersebut sama tanpa anda peduli (untuk mengetahui secara ilmiyyah) apakah kedua hadits tersebut shahih atau dho’if?
Misalkan pula anda memperhatikan suatu masalah yang imam anda mempunyai suatu pendapat tentangnya, dan (ulama) lain menyalahi pendapat tersebut.
Apakah hawa nafsu anda yang lebih berperana dalam melakukan tarjih salah satu dari dua pendapat tadi? Ataukah anda menelitinya supaya anda dapat mengetahui mana yang rajih dari keduanya dan anda dapat menjelaskan kerajihannya tersebut.
Misalkan pula ada seseorang yang anda cintai dan yang lain anda benci. Keduanya berselisih dalam suatu masalah. Kemudian anda dimintai pendapat tentang perselisihan tersebut. Padahal (anda tidak mengetahui duduk persoalannnya sehingga) anda tidak mungkin dapat menghukuminya. Ketika anda meneliti permasalahan tersebut, apakah hawa nafsu anda yang berperan sehingga lebih memihak orang yang anda cintai?
Misalkan pula ada tiga fatwa dari ulama dalam permasalahan yang berbeda.
Satu dari anda sendiri, yang kedua dari orang yang engkau cintai, dan fatwa ketiga dari orang yang tidak engkau sukai. Dan setelah engkau teliti fatwa kedua teman anda tersebut, maka anda nilai keduanya benar pula. Kemudian sampai berita kepada anda bahwa ada seorang alim yang mengeritik salah satu dari ketiga fatwa tersebut dan mengingkarinya dengan sangat keras. Apakah anda mempunyai sikap yang sama apabila fatwa yang dikritik itu adalah fatwa anda atau fatwa sahabat anda atau fatwa orang yang tidak anda sukai?
Misalkan pula anda mengetahui seseorang berbuat kemunkaran dan anda berhalangan untuk mencegahnya. Kemudian sampai kepada anda bahwa ada seorang ahli ilmu yang mengingkari orang tersebut dengan sangat kerasnya.
Maka apakah anggapan baik anda akan sama apabila yang mengingkari itu teman anda atau musuh anda, begitu pula apabila orang yang diingkarinya itu teman anda atau musuh anda?
Periksalah diri anda! Anda akan dapatkan diri anda sendiri ditimpa musibah dengan perbuatan maksiat atau kekurangan dalam hal Dien. Juga engkau dapati orang yang anda benci ditimpa mushibah dengan melakukan kemaksiatan pula dan kekuranga lainnya dalam syari’at yang tidak lebih berat dari maksiat yang menimpamu. Maka apakah engkau dapati kebenciannmu kepada oarang tersebut (disebabkan maksiat atau kekuarangan dalam syari’at) sama dengan kebencanmu kepada dirimu sendiri? Dan apakah engkau dapati kemarahannmu kepada dirimu sendiri sama dengan kemarahanmu kepadanya?
Pintu-pintu hawa nafsu tidak tehitung banyaknhya. Saya mempunyai pengalaman pribadi ketika saya memperhatikan suatu permasalahan yang saya anggap bahwa hawa nafsu tidak ikut tercampur dalam masalah tersebut. Saya mendapatkan satu pengertian dalam masalah tersebut, maka saya menetapkannya dengan satu ketetapan yang saya anggap baik. Kemudian setelah itu saya melihat sesuatu yang membuat cacat ketepan tadi. Lalu saya gigih mempertahankan kesalahan tadi dan jiwaku menyuruhku untuk memberikan pembelaan dan menutup mata, serta menolak untuk mengadakan penelitian lebih lanjut secara mendalam. Hal ini dikarenakan ketika saya menetapkan pengertian pertama yang saya kagumi itu, hawa nafsu saya condong untuk membenarkannya. Padahal belum ada satu orangpun yang mengetahui hal ini. Maka bagaimana seandainya hal tersebut sudah saya sebar luaskan kepada khalayak ramai, kemudian setelah itu tampak bagiku bahwa pengertian tersebut salah? Maka bagaimana pula apabila kesalahan tersebut bukan saya sendiri yang mengetahuinya melainkan orang lain yang mengkritikku? Maka bagaimana pula jika orang yang mengkritikku adalah orang yang aku benci?
Hal ini bukan berarti bahwa seorang alim dituntut untuk tidak mempunyai hawa nafsu karena hal ini diluar kemampuannya. Tapi kewajiban seorang alim adalah mengoreksi diri dan hawa nafsunya supaya dia mengetahui kemudian mengekangnya dan memperhatikan dengan seksama dalam hal kebanaran sebagai suatu kebenaran. Apabila jelas baginya bahwa kebenaran tersebut menyelisihi hawa nafsunya, maka dia harus mengutamakan kebenaran daripada mengikuti hawa nafsunya.
Seorang alim terkadang lalai dalam mengawasi hawa nafsunya. Ia bersikap toleran sehingga dirinya condong kepada kebatilan dan membela kebatilan tersebut. Dia menyangka bahwa dirinya belum menyimpang dari kebenaran. Dia menyangka pula bahwa dirinya tidak sedang memusuhi kebenaran. Tidak ada orang yang selamat dari perbuatan ini kecuali orang yang ma’shum Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja para ulama bertingkat-tingkat dalam sikapnya terhadap hawa nafsu. Diantara mereka ada yang sering terbawa arus hawa nafsunya sampai melampaui batas sehingga orang yang tidak mengetahui tabiat manusia dan pengaruh hawa nafsu yang demikian besar menyangka bahwa si alim tadi melakukan kesalahan yang fatal dengan sengaja. Diantara ulama juga ada orang yang dapat mengekang hawa nafsunya sehingga jarang sekali mengikuti hawa nafsunya.
Oleh sebab itu barangsiapa sering membaca buku-buku dari penulis yang sama sekali tidak menyandarkan ijthad mereka kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka dia akan banyak mendapatkan keanehan. Hal ini tidak mudah diketahui kecuali oleh orang-orang yang hawa nafsunya tidak condong kepada buku-buku tersebut, yaitu orang yang condong kepada kebenaran yang bertentangan dengan buku-buku tersebut. Kalau hawa nafsunya cenderung kepada buku-buku tersebut dan sudah dikuasai hawa nafsunya, maka dia menyangka bahwa orang-orang yang sependapat dengannya itu terbebas dari mengikuti hawa nafsu, sedangkan orang-orang yang bertentangan dengannya adalah orang-orang yang mengikuti hawa nafsu.
Orang salaf dahulu ada yang berlebihan dalam mengekang hawa nafsunya sampai ia terjerumus ke dalam kesalahan pada sisi yang lain. Seperti seorang hakim yang mengadili dua orang yang berselisih. Orang pertama adalah saudara kandungnya sedangkan yang kedua adalah musuhnya. Ia berlebihan dalam mengekang hawa nafsunya sampai ia menzholimi saudara kandungnya sendiri. Ia seperti orang yang berjalan di tepi jurang yang curam di kanan kirinya, berusaha menghindari jurang yang disebelah kanan namun berlebihan sehingga ia terjatuh ke dalam jurang yang di sebelah kirinya.
(Diterjemahkan dari buku At-Tankil bi Maa fi Ta’nibil Kautsari minal Abathil, karya Syaikh Abdurrahman Al-Mu’allimi Al-Yamani bagian keempat: Al-Qaid ila Tashih Al-Aqaid hal. 196-198 )
»»  READMORE...

Saudaraku…Mari berbincang Sejenak

Saudaraku …
Aku yakin Engkau sangat menginginkan kebaikan dalam hidupmu. Tidaklah mungkin Engkau menginginkan keburukan menimpamu. Setiap orang tentu mengharapkan kebaikan untuk hidupnya di dunia, lebih-lebih di akhirat kelak. Aku pun yakin, Engkau senantiasa berdoa siang dan malam demi kebaikan dirimu, ”Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka”.
Kebahagiaan Sejati Terletak pada Ilmu Syar’i
Namun, tidakkah Engkau tahu, bahwa kebaikan dan kebahagiaan dunia itu ada di dalam ilmu? Ketika menafsirkan firman Allah ta’ala yang artinya,
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً (٢٠١)
”Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia” (QS. Al Baqoroh : 201), Al-Hasan Al Bashri rahimahullah (murid dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha) berkata,”kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah”. Dan ketika menafsirkan firman Allah ta’ala yang artinya,
وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً
”Dan kebaikan di akhirat” (QS. Al Baqoroh : 201), beliau berkata,”kebaikan di akhirat adalah surga”. Inilah tafsir yang paling baik, karena kebaikan yang paling tinggi adalah ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. (Miftah Daris Sa’adah 1/121).
Dan perlu Engkau ketahui, jika Engkau menuntut ilmu maka itu adalah tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan untuk dirimu. Baik kebaikan di dunia ini, lebih-lebih kebaikan di akhirat kelak. Ka rena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya” (HR. Bukhari nomor 71 dan Muslim nomor 1037).
Imam Ibnu Hajar Al Asqalani Asy Syafi’i, mengatakan,
وَمَفهوم الحديث أن من لم يتفقه في الدين أي يتعلم قواعد الإسلام وما يتصل بها من الفروع فقد حرم الخير
“Konteks hadits di atas menunjukkan bahwa seorang yang tidak memahami agama, dalam artian tidak mempelajari berbagai prinsip fundamental dalam agama Islam dan berbagai permasalahan cabang yang terkait dengannya, maka sungguh ia diharamkan untuk memperoleh kebaikan” (Fathul Baari 1/165).
Saudaraku …
Aku yakin Engkau pasti menginginkan kebahagiaan. Dan aku pun yakin bahwa Engkau pasti akan berbuat apa saja demi meraih kebahagiaan itu. Meskipun harus dengan mengorbankan apa saja termasuk mengeluarkan harta dalam jumlah yang sangat banyak. Dan tentu Engkau akan sangat bersedih jika hidupmu tidak bahagia.
Akan tetapi, aku ingin bertanya kemudian menjelaskan kepadamu,”Apakah kebahagiaan yang hakiki itu? Apakah definisi kebahagiaan menurut pandanganku?”
Imam Muhammad bin Abu Bakr Al Hambali rahimahullah berkata,
السعادة الحقيقية وهي سعادة نفسانية روحية قلبية وهي سعادة العلم النافع ثمرته فإنها هي الباقية على تقلب الأحوال والمصاحبة للعبد في جميع أسفاره وفي دوره الثلاثة أعني دار الدنيا ودار البرزخ ودار القرار
”Kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan jiwa, ruh, dan hati. Kebahagiaan itu tidak lain adalah kebahagiaan ilmu yang bermanfaat dan berbagai buahnya. Karena sesungguhnya itulah kebahagiaan yang abadi dalam seluruh keadaan. Kebahagiaan ilmulah yang menemani seorang hamba dalam seluruh perjalanan hidupnya di tiga negeri : negeri dunia, negeri barzakh (alam kubur), dan negeri akhirat”. (Miftah Daris Sa’adah 1/108).
Itulah kebahagiaanku. Aku pun yakin bahwa kebahagiaan itu pula yang akan membuat Engkau selalu tersenyum gembira. Apakah Engkau tidak menginginkan untuk meraih kebahagiaan itu?
Saudaraku…
Ilmu adalah sumber kehidupan dan cahaya penerang hidup bagi seorang hamba. Adapun kebodohan, ia adalah sumber kebinasaan dan kegelapan bagi dirinya. Semua kejelekan bersumber dari ketiadaan kehidupan dan cahaya. Dan semua kebaikan sumbernya adalah keberadaan cahaya dan kehidupan. Karena sesungguhnya dengan adanya cahaya  akan menyingkap hakekat segala sesuatu dan memperjelas tingkatan-tingkatannya. Dan kehidupan merupakan penentu sifat kesempurnaan, yang dengannya ucapan dan perbuatan bisa berfungsi sebagaimana mestinya (Al ’Ilmu, Fadluhu wa Syarafuhu, hal. 34).
Kebutuhan Terhadap Ilmu
Saudaraku…
Kebutuhan manusia kepada ilmu jauh lebih mendesak daripada kebutuhan badan terhadap makanan. Sebab badan hanya membutuhkan makanan dalam sehari sekali atau dua kali saja. Sedangkan kebutuhan manusia terhadap ilmu itu sebanyak bilangan tarikan nafas. Hal itu dikarenakan setiap tarikan nafasnya senantiasa membutuhkan keikutsertaan iman dan hikmah. Kalau pada suatu saat dia kehilangan iman atau hikmah dalam satu tarikan nafas saja, maka sesungguhnya dia telah berada di tepi jurang kehancuran. Padahal tidak ada jalan untuk tetap beriman dan bersikap hikmah kecuali dengan memahami ilmunya. Oleh sebab itu kebutuhan terhadapnya jauh lebih mendesak daripada kebutuhan diri terhadap makanan dan minuman (Al ’Ilmu, Fadluhu wa Syarafuhu, hal.91).
Ilmu adalah Makanan Hati
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah berkumpul satu kaum di salah satu rumah Allah (masjid), mereka membaca Kitab Allah, dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan turun atas mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, mereka dikelilingi oleh para Malaikat, dan Allah sebut mereka di hadapan makhluk yang di sisi-Nya” (HR. Muslim 8/71,).
Dalam hadits ini, Rasulullah menjelaskan bahwa Allah akan mengaruniakan ketenangan dan rahmat kepada orang-orang yang menuntut ilmu. Dan ketenangan itu diperoleh jika hati kita selalu hidup dan tidak pernah mati. Karena hati yang hidup akan selalu berdzikir kepada Allah, senantiasa mengingat kebesaran dan keagungan Allah serta selalu mengingat berbagai nikmat yang dikaruniakan oleh Allah. Hidupnya hati ini tidak lain adalah dengan ilmu. Dengan ilmu-lah kita menghidupkan hati-hati kita dari kematian.
Sebagian orang bijak berkata,”Tidakkah orang yang sakit itu, jika tidak diberi makan, minum, dan obat-obatan maka ia akan mati?” Orang-orang menjawab,”Betul”. Orang tersebut berkata lagi,”Maka demikian pula hati. Jika hati tidak diberi ilmu dan hikmah, maka dalam tiga hari hati itu akan mati”.
Sungguh benar apa yang dikatakan oleh orang bijak itu. Sesungguhnya ilmu itu adalah makanan, minuman, dan obat bagi hati. Kehidupan hati sangat tergantung kepadanya.
Jika ilmu telah menghilang dari hati, maka hati itu seperti mayit. Akan tetapi pemiliknya tidak menyadarinya. Sebagaimana orang mabuk yang telah hilang akalnya dan sebagaimana orang yang sangat ketakutan. Pada kondisi seperti itu, mereka tidak merasakan sakitnya luka. Namun, jika mereka telah sehat dan kembali pulih dari sakitnya, maka mereka akan merasakan sakitnya luka tersebut (Al ‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarfuhu). Itulah ketenangan dan kedamaian hati yang sebenarnya. Jika Engkau tidak menuntut ilmu yang ada hanyalah kegelisahan dan kesedihan.
Teguran bagi Mereka yang Tidak Mau Tahu terhadap Perkara Agama
Saudaraku…
Janganlah Engkau tertipu dengan kesenangan duniawi. Apakah Engkau merasa minder di hadapan teman-temanmu karena Engkau tidak bisa menyaingi kekayaan mereka? Apakah Engkau tidak merasa takut di hadapan Allah jika Engkau tidak memahami agama-Nya? Marilah kita merenungkan sabda Nabi berikut,
إن الله يبغض كل جعظري جواظ سخاب في الأسواق جيفة بالليل حمار بالنهار عالم بالدنيا جاهل بالآخرة
“Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang ‘alim (pandai) dalam masalah duniawi, namun jahil (bodoh) terhadap masalah akhirat” (HR. Al Baihaqi dalam Al Kubra nomor 20593 dengan sanad yang shahih).
Allah ta’ala juga berfirman,
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ (٧)
”Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar Ruum: 7).
Imam Al Baghawi rahimahullah berkata,
أَمْرَ مَعَاشَهُمْ، كَيْفَ يَكْتَسِبُوْنَ وَيتجرون، وَمَتَى يَغْرُسُوْنَ وَيِزْرَعُوْنَ وَيَحْصُدُوْنَ، وَكَيْفَ يَبْنُوْنَ وَيَعِيْشُوْنَ وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ سَاهُوْنَ عَنْهَا جَاهِلُوْنَ بِهَا، لاَ يَتَفَكَّرُوْنَ فِيْهَا وَلاَ يَعْمَلُوْنَ لَهَا
”Mereka tahu akan profesi mereka, bagaimana mereka bekerja, berdagang, kapan bercocok tanam dan memanen serta bagaimana membangun dan hidup. (Namun mereka) lalai, lupa dan bodoh terhadap kehidupan akhirat, tidak memikirkannya dan beramal untuk menyongsongnya” (Ma’alimut Tanzil 1/262).
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata,
والله لبلغ من أحدهم بدنياه أن يقلب الدرهم على ظفره فيخبرك بوزنه
وما يحسن أن يصلي
”Demi Allah, salah seorang dari mereka telah mencapai keilmuan yang tinggi dalam hal dunia, di mana ia mampu memberitahukan kepada anda mengenai berat sebuah uang perak hanya dengan membalik uang tersebut pada ujung kukunya, sedangkan dirinya tidak becus dalam melaksanakan shalat (dikarenakan minimnya perhatian terhadap ilmu agama)” (Tafsir Ibnu Katsir 3/560).
lmu Syar’i, Jalan Termudah Menuju Surga
Kita tutup dialog ini dengan merenungkan bersama sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة
“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim nomor ).
Jika ilmu agama itu jalan termudah untuk menggapai surga, maka cukuplah bagi kita pengetahuan terhadap agama ini sehingga kita menemui Rabb kita dengan keyakinan yang benar, tidak menyimpang, amal ibadah kita benar, dan terbebas dari segala bid’ah, insya Allah.
“Ya Allah, wafatkanlah kami dalam keadaaan beriman, rahmatilah kami ya Allah. Janganlah Engkau wafatkan kami dalam keadaaan memiliki aqidah yang menyimpang. Ya Allah, teguhkanlah kami di atas jalan ilmu, berdakwah kepadanya dan sabar dalam menjalani cobaan”. Amin.
»»  READMORE...

MUTIARA QOLBU

Siapa yang bisa menandingimu wahai anak cucu Adam dalam hal bertaubat?
Engkau bisa datang ke mihrab kapanpun engkau mau untuk menghadap Tuhanmu.
Tak ada apapun yang membatasi antara dirimu dan Tuhanmu.
Tak ada perantara.
Tak ada penterjemah.
(Baka bin Abdillah Al Muzani)

Bersungguh-sungguhlah dengan kehinaanmu
Niscaya Ia menolongmu dengan kemuliaan-Nya
Bersungguh-sungguhlah dengan ketidakberdayaanmu
Niscaya Ia menolongmu dengan kekuasaan-Nya
Bersungguh-sungguhlah dengan kelemahanmu
Niscaya Ia menolongmu dengan kekuatan-Nya.
(Ibnu Athaillah)

Suplai bantuan Allah, tidak berlaku bagi orang yang dikuasai oleh hawa nafsu dan mengikuti syahwatnya
(Fudhail bin Iyadh)

Hati adalah raja. Dan seluruh tubuh adalah pasukannya.
Jika rajanya baik maka baik pula pasukannya
(Ibnul Qoyyim)

Mata adalah panglima hati. Maka Jagalah pandangan.
Berusaha sekuat tenaga menekan hawa nafsu itu adalah kelezatan.
Kelezatan di atas kelezatan
(Ahli Hikmah)

Tidaklah dunia akan menjadi obsesi seseorang kecuali dunia menjadi sangat melekat dihatinya dalam 4 keadaan :
Kefakiran yang tak kenal kekayaan
Keinginan yang tak putus-putus
Kesibukan yang tak pernah habis
Angan-angan yang tak ada ujungnya

(Umar bin Khattab)

Barang siapa yang memalingkan pandangan dari suatu yang haram
Maka Allah akan berikan satu titik cahaya dalam hatinya…
Kebohongan berawal dari jiwa lalu merembet pada lisan dan merusak perkataan
Kemudian merembet pada anggota badan dan merusak segala perbuatan
Dan akhirnya kebohongan itu menyelimuti perkataan, perbuatan dan segala keadaan
(Ibnul Qayyim)

Hati-hatilah engkau dari sikap bangga dengan tekadmu untuk meninggalkan hawa nafsu namun engkau berada dekat dengan fitnah yang bisa menjerumuskan
(Ibnul Jauzi)

Jangan tinggalkan temanmu karena ia berbuat dosa sebab mungkin saja hari ini ia salah namun pada hari yang lain ia benar
(Ibrahim An Nakh’i)

Periharalah orang lain dari keburukanmu
Itu saja sudah merupakan shadaqah darimu untuk dirimu sendiri
(HR. Muslim)

Taubat itu wajib bagi seseorang
Tapi lebih wajib baginya untuk meninggalkan dosa
Perjalanan waktu ini sangat mengherankan
Tapi lebih mengherankan lagi kelalaian manusia terhadap waktu
Sabar dalam menghadapi musibah itu sulit
Tapi hilangnya kesabaran itu lebih sulit lagi akibatnya
Semua yang bisa dicapai itu dekat
Tapi kematian lebih dekat dari semuanya
(Ali bin Abi Thalib)

Sesungguhnya termasuk kebaikan jiwaku adalah pengetahuanku tentang kerusakan jiwaku
(Wahib bin Wurd)
»»  READMORE...

Makna dibalik Kehidupan Ku

Hidup ini bukanlah suatu jalan yang datar dan ditaburi bunga melainkan adakalanya disirami airmata dan juga darah. ~ Hamka
Kehidupan ini tidak menjanjikan kebahagiaan sepanjang masa. Kadang kala manusia diasah dengan berbagai cobaan dan ujian. Sekiranya lemah, kita akan terus hanyut mengikut kata hati dan tidak berusaha mencari penyelesaian untuk menyelamatkan diri dan keadaan.


Hidup di dunia ini tidak ubah seperti seorang musafir yang sedang bernaung di bawah sebatang pohon yang sebentar kemudian pergi dan meninggalkan pohon tersebut.

Kehidupan itu adalah suatu nikmat bagi orang yang menghargai dan menyadarinya.
Hidup ini bukanlah seperti debu yang berterbangan oleh angin. Hidup kita bukan tiada maknanya. kita semua mempunyai misi yang besar di dunia ini. setiap orang! Bukan cuma segolongan manusia, atau sekumpulan orang. Selagi kita bernafas, selagi kita tidak ditalkinkan atau dikuburkan hidup kita mempunyai misi.
banyak orang melalui hidup ini tanpa mengerti betapa pentingnya mereka kepada umat sejagat. Lalu apabila sesuatu musibah menimpa, mereka mengambil jalan untuk memusnahkan diri karena tidak sanggup menanggung hebatnya cobaan.
Ingatlah ! tidak ada arang batu yang menjadi intan tanpa melalui tekanan demi tekanan. Hidup yang melalui kesukaran dan dugaan adalah untuk menjadikan kita lebih kuat dan lebih memahami orang lain. Cuma hati yang pernah dilapah yang boleh merasa besarnya arti kasih dan sayang sesama manusia.
Kita mempunyai hak dan kemampuan untuk mengemudikan sendiri hidup kita. Jika mahu sukses dan bergembira, maka mestilah mengikut corak, pemikiran, sikap, perangai dan pegangan orang orang yang telah sukses.
»»  READMORE...

Obat Penenang Jiwa

Segala puji untuk Allah, Yang telah menurunkan al-Qur’an sebagai petunjuk dan obat bagi hamba-hamba yang beriman. Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Imam orang-orang yang bertakwa, yang telah menguraikan ayat-ayat-Nya kepada segenap umatnya. Amma ba’du.

Saudaraku, sudah menjadi tabiat manusia bahwa mereka menyukai sesuatu yang bisa menyenangkan hati dan menentramkan jiwa mereka. Oleh sebab itu, banyak orang rela mengorbankan waktunya, memeras otaknya, dan menguras tenaganya, atau bahkan kalau perlu mengeluarkan biaya yang tidak kecil jumlahnya demi meraih apa yang disebut sebagai kepuasan dan ketenangan jiwa. Namun, ada sebuah fenomena memprihatinkan yang sulit sekali dilepaskan dari upaya ini. Seringkali kita jumpai manusia memakai cara-cara yang dibenci oleh Allah demi mencapai keinginan mereka.

Ada di antara mereka yang terjebak dalam jerat harta. Ada yang terjebak dalam jerat wanita. Ada yang terjebak dalam hiburan yang tidak halal. Ada pula yang terjebak dalam aksi-aksi brutal atau tindak kriminal. Apabila permasalahan ini kita cermati, ada satu faktor yang bisa ditengarai sebagai sumber utama munculnya itu semua. Hal itu tidak lain adalah karena manusia tidak lagi menemukan ketenangan dan kepuasan jiwa dengan berdzikir dan mengingat Rabb mereka.

Padahal, Allah ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam ayat (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram.” (QS. ar-Ra’d: 28). Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa pendapat terpilih mengenai makna ‘mengingat Allah’ di sini adalah mengingat al-Qur’an. Hal itu disebabkan hati manusia tidak akan bisa merasakan ketentraman kecuali dengan iman dan keyakinan yang tertanam di dalam hatinya. Sementara iman dan keyakinan tidak bisa diperoleh kecuali dengan menyerap bimbingan al-Qur’an (lihat Tafsir al-Qayyim, hal. 324)

Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Dzikir merupakan sebuah kelezatan bagi hati orang-orang yang mengerti.” Demikian juga Malik bin Dinar mengatakan, “Tidaklah orang-orang yang merasakan kelezatan bisa merasakan sebagaimana kelezatan yang diraih dengan mengingat Allah.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 562). Sekarang, yang menjadi pertanyaan kita adalah; mengapa banyak di antara kita yang tidak bisa merasakan kelezatan berdzikir sebagaimana yang digambarkan oleh para ulama salaf. Sehingga kita lebih menyukai menonton sepakbola daripada ikut pengajian, atau lebih suka menikmati telenovela daripada merenungkan ayat-ayat-Nya, atau lebih suka berkunjung ke lokasi wisata daripada memakmurkan rumah-Nya.

Perhatikanlah ucapan Rabi’ bin Anas berikut ini, mungkin kita akan bisa menemukan jawabannya. Rabi’ bin Anas mengatakan sebuah ungkapan dari sebagian sahabatnya, “Tanda cinta kepada Allah adalah banyak berdzikir/mengingat kepada-Nya, karena sesungguhnya tidaklah kamu mencintai apa saja kecuali kamu pasti akan banyak-banyak menyebutnya.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 559). Ini artinya, semakin lemah rasa cinta kepada Allah dalam diri seseorang, maka semakin sedikit pula ‘kemampuannya’ untuk bisa mengingat Allah ta’ala. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan kondisi batin kita yang begitu memprihatinkan, walaupun kondisi lahiriyahnya tampak baik-baik saja. Aduhai, betapa sedikit orang yang memperhatikannya! Ternyata, inilah yang selama ini hilang dan menipis dalam diri kita; yaitu rasa cinta kepada Allah…

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Pokok dan ruh ketauhidan adalah memurnikan rasa cinta untuk Allah semata, dan hal itu merupakan pokok penghambaan dan penyembahan kepada-Nya. Bahkan, itulah hakekat dari ibadah. Tauhid tidak akan sempurna sampai rasa cinta seorang hamba kepada Rabbnya menjadi sempurna, dan kecintaan kepada-Nya harus lebih diutamakan daripada segala sesuatu yang dicintai. Sehingga rasa cintanya kepada Allah mengalahkan rasa cintanya kepada selain-Nya dan menjadi penentu atasnya, yang membuat segala perkara yang dicintainya harus tunduk dan mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan bisa menggapai kebahagiaan dan kemenangannya.” (al-Qaul as-Sadid Fi Maqashid at-Tauhid, hal. 95)

Kalau demikian keadaannya, maka solusi untuk bisa menggapai ketenangan jiwa melalui dzikir adalah dengan menumbuhkan dan menguatkan rasa cinta kepada Allah. Dan satu-satunya jalan untuk mendapatkannya adalah dengan mengenal Allah melalui keagungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan memperhatikan kebesaran ayat-ayat-Nya, yang tertera di dalam al-Qur’an ataupun yang berwujud makhluk ciptaan-Nya. Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya rasa cinta kepada sesuatu merupakan cabang dari pengenalan terhadapnya. Maka manusia yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling cinta kepada-Nya. Dan setiap orang yang mengenal Allah pastilah akan mencintai-Nya. Dan tidak ada jalan untuk menggapai ma’rifat ini kecuali melalui pintu ilmu mengenai nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Tidak akan kokoh ma’rifat seorang hamba terhadap Allah kecuali dengan berupaya mengenali nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang disebutkan di dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah…” (Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid al-Asma’ wa as-Shifat, hal. 16)

Hati seorang hamba akan menjadi hidup, diliputi dengan kenikmatan dan ketentraman apabila hati tersebut adalah hati yang senantiasa mengenal Allah, yang pada akhirnya membuahkan rasa cinta kepada Allah lebih di atas segala-galanya (lihat Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid al-Asma’ wa as-Shifat, hal. 21). Di sisi yang lain, kelezatan di akherat yang diperoleh seorang hamba kelak adalah tatkala melihat wajah-Nya. Sementara hal itu tidak akan bisa diperolehnya kecuali setelah merasakan kelezatan paling agung di dunia, yaitu dengan mengenal Allah dan mencintai-Nya, dan inilah yang dimaksud dengan surga dunia yang akan senantiasa menyejukkan hati hamba-hamba-Nya (lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 261)

Banyak orang yang tertipu oleh dunia dengan segala kesenangan yang ditawarkannya sehingga hal itu melupakan mereka dari mengingat Rabb yang menganugerahkan nikmat kepada mereka. Hal itu bermula, tatkala kecintaan kepada dunia telah meresap ke dalam relung-relung hatinya. Tanpa terasa, kecintaan kepada Allah sedikit demi sedikit luntur dan lenyap. Terlebih lagi ‘didukung’ suasana sekitar yang jauh dari siraman petunjuk al-Qur’an, apatah lagi pengenalan terhadap keagungan nama-nama dan sifat-Nya. Maka semakin jauhlah sosok seorang hamba yang lemah itu dari lingkaran hidayah Rabbnya. Sholat terasa hampa, berdzikir tinggal gerakan lidah tanpa makna, dan al-Qur’an pun teronggok berdebu tak tersentuh tangannya. Wahai saudaraku… apakah yang kau cari dalam hidup ini? Kalau engkau mencari kebahagiaan, maka ingatlah bahwa kebahagiaan yang sejati tidak akan pernah didapatkan kecuali bersama-Nya dan dengan senantiasa mengingat-Nya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Akan tetapi ternyata kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, sementara akherat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. al-A’la: 16-17). Allah juga berfirman mengenai seruan seorang rasul yang sangat menghendaki kebaikan bagi kaumnya (yang artinya), “Wahai kaumku, ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepada kalian jalan petunjuk. Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (yang semu), dan sesungguhnya akherat itulah tempat menetap yang sebenarnya.” (QS. Ghafir: 38-39) (lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 260)

Apabila engkau menangis karena ludesnya hartamu, atau karena hilangnya jabatanmu, atau karena orang yang pergi meninggalkanmu, maka sekaranglah saatnya engkau menangisi rusaknya hatimu… Allahul musta’aan wa ‘alaihit tuklaan.
***
»»  READMORE...

Hati Yang Terbaik

Ali radhiallahu ‘anhu berwasiat kepada muridnya, Kumail bin Ziyad,
يا كميل بن زياد القلوب أوعية فخيرها أوعاها للعلم احفظ ما أقول لك الناس ثلاثة فعالم رباني ومتعلم على سبيل نجاة وهمج رعاع اتباع كل ناعق يميلون مع كل ريح لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجئوا إلى ركن وثيق
“Wahai Kumail bin Ziyad. Hati manusia itu bagaikan bejana (wadah). Oleh karena itu, hati yang terbaik adalah hati yang paling banyak memuat ilmu. Camkanlah baik-baik apa yang akan kusampaikan kepadamu. Manusia itu terdiri dari 3 kategori, seorang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya. Seorang yang terus mau belajar, dan orang inilah yang berada di atas jalan keselamatan. Orang yang tidak berguna dan gembel, dialah seorang yang mengikuti setiap orang yang bersuara. Oleh karenanya, dia adalah seorang yang tidak punya pendirian karena senantiasa mengikuti kemana arah angin bertiup. Kehidupannya tidak dinaungi oleh cahaya ilmu dan tidak berada pada posisi yang kuat.” (Hilyah al-Auliya 1/70-80).

Hati yang Terbaik
Wasiat khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu ini, adalah suatu wasiat yang terkenal di kalangan para ulama yang menjelaskan kategori manusia.
Setelah beliau menjelaskan bahwa hati manusia itu adalah bagaikan wadah, maka hati yang terbaik adalah hati yang dipenuhi dengan ilmu. Hati yang dipenuhi oleh pemahaman terhadap Al Qur-an dan sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena mereka yang memahami Al Qur-an dan sunnah rasul-Nya adalah orang-orang yang dikehendaki oleh Allah ta’ala untuk memperoleh kebaikan sebagaimana sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari nomor 71 dan Muslim nomor 1037).
Pada sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, rasulullah menyebutkan lafadz خيرا yang berarti kebaikan dalam bentuk nakirah (indefinitif) yang didahului oleh kalimat bersyarat sehingga menunjukkan makna yang umum dan luas. Seakan-akan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mengatakan, jika Allah menghendaki seluruh kebaikan diberikan kepada seorang, maka Allah hanya akan memberikannya kepada para hamba-Nya yang Dia pahamkan terhadap agama-Nya. Karena seluruh kebaikan hanya Allah berikan bagi orang-orang yang mau mempelajari dan mengkaji agama Allah ta’ala.
Dari hadits di atas juga, kita dapat memahami bahwasanya mereka yang enggan mempelajari agama Allah ta’a a, maka pada hakikatnya mereka tidak memperoleh kebaikan.
Oleh karenanya, imam Ibnu Hajr Al Asqalani Asy Syafi’i tatkala menjelaskan hadits di atas, beliau mengatakan,
مَفْهُوم الْحَدِيث أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّه فِي الدِّين – أَيْ : يَتَعَلَّم قَوَاعِد الْإِسْلَام وَمَا يَتَّصِل بِهَا مِنْ الْفُرُوع – فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْر
“Konteks hadits di atas menunjukkan bahwa seorang yang tidak memahami agama, dalam artian tidak mempelajari berbagai prinsip fundamental dalam agama Islam dan berbagai permasalahan cabang yang terkait dengannya, maka sungguh ia diharamkan untuk memperoleh kebaikan” (Fathul Baari 1/165).

Sang Alim Rabbani
Kemudian khalifah ’Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu menerangkan bahwasanya manusia terbagi menjadi tiga kategori. Kategori pertama adalah عالم رباني seorang yang berilmu, mengajarkan, mendakwahkan dan menyebarkan ilmunya. Karena seorang alim rabbani adalah sebagaimana yang diterangkan oleh imam Mujahid rahimahullah ta’ala,
الرباني الذي يربي الناس بصغار العلم قبل كباره
”Ar Rabbani adalah seorang yang mengajari manusia hal-hal yang mendasar sebelum mengajari mereka dengan berbagai hal yang rumit.” (Tafsir Al Qurthubi 4/119).
Maka, seorang rabbani adalah seorang yang mengajarkan ilmunya. Maka dialah seorang yang selayaknya kita ikuti. Dialah seorang yang berilmu dengan ilmu  yang benar yaitu yang berupa Al Qur-an dan sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena ilmu adalah sebagaimana yang dikatakan oleh imam Asy Syafi’i rahimahullah
كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْآنِ مُشْغِلَةٌ    إِلاَّ الْحَدِيْثَ وَ عِلْمَ الْفِقْهِ قِي الدِّيْنِ
اَلْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا         وَ مَا سِوَى ذَاكَ وَسْوَسُ الشَّيَاطِيْنَ
Setiap ilmu selain Al Qur-an akan menyibukkan, kecuali ilmu hadits dan fiqih
Ilmu adalah sesuatu yang di dalamnya terdapat ungkapan ‘Haddatsana’ (yaitu ilmu yang berdasar kepada wahyu)
Adapun ilmu selainnya, hal itu hanyalah bisikan syaithan semata (Diwan al Imam asy Syafi’i, Dar al Kutub al ’Ilmiyah).
Namun yang patut dicamkan oleh mereka yang berilmu adalah ilmu yang mereka ketahui dan ajarkan kepada manusia selamanya tidak akan bermanfaat hingga mereka mengamalkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مثل العالم الذي يعلم الناس الخير و ينسى نفسه كمثل السراج يضيء للناس و يحرق نفسه
“Permisalan seorang alim yang mengajari kebaikan kepada manusia namun melupakan dirinya (karena tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lilin yang menerangi manusia namun justru membakar dirinya sendiri.” (Al Jami’ush Shaghir wa Ziyadatuhu nomor 10770 dengan sanad yang shahih).
Penuntut Ilmu di Atas Jalan Keselamatan
Jika kita bukan termasuk kategori yang pertama, maka hendaknya kita menjadi orang yang termasuk dalam kategori kedua, kategori yang beliau katakan sebagai متعلم على سبيل نجاة yaitu seorang yang mau belajar dan orang inilah orang yang berada di atas jalan keselamatan.
Maka benarlah apa yang beliau katakan, karena sesungguhnya seorang yang terus mau belajar adalah orang yang sedang meniti jalan menuju surga sebagaimana yang disabdakan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة
“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim nomor 2699).
Maka seorang yang selalu belajar dan belajar, maka dialah على سبيل نجاة  orang yang berada di atas jalan keselamatan.
Hamajun Ra-a’ (Gembel yang Tidak Berguna)
Adapun orang yang selain kedua golongan ini. Maka hal ini adalah sesuatu yang memalukan dan sangat berbahaya.
Kata beliau mereka ini adalah orang-orang yang gembel dan tidak begitu berguna. Mereka ini adalah orang-orang yang memiliki sifat mengikuti setiap orang yang berkomentar dan mengikuti kemana arah angin bertiup.
Artinya, siapa saja yang memberikan komentar kepadanya, maka dia akan mengikutinya tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. Orang ini tidak memiliki pendirian, ketegasan sikap karena ia tidak memiliki ilmu. Maka dia adalah seorang yang bingung.
Maka beliau katakan bahwa orang ini layaknya seperti pohon yang mengikuti kemana arah angin bertiup. Itulah orang-orang yang tidak menjalani kehidupannya dengan cahaya ilmu, dengan cahaya firman Allah dan sabda rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang ini adalah orang yang tidak berada dalam posisi yang kokoh dan kuat sehingga ia adalah seorang yang cepat berubah dan tidak memiliki pendirian. Orang yang mengikuti apa saja yang dikatakan oleh orang yang berada di sebelah kanan dan kirinya. Maka boleh jadi dan bisa jadi dia celaka dikarenakan hal tersebut.
Persis seperti kejadian yang terjadi di masa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada seorang yang terlempar dari untanya, maka kepalanya pun terluka. Namun pada malam hari, dia bermimpi sehingga dia memasuki pagi hari dalam kondisi junub. Akan tetapi ia tidak tahu bagaimana bersikap dikarenakan minimnya ilmu yang dia miliki. Akhirnya dia pun bertanya kepada orang yang berada di sampng kanan dan di samping kirinya. Apakah ia harus mandi untuk bersuci atau dia diperbolehkan bertayammum karena kepalanya terluka.
Ternyata dia bertanya kepada orang yang salah, sehingga dia memperoleh jawaban yang salah. Pihak yang ditanyai menyarankan bahwa dia tetap harus mandi karena tidak ada rukhshah (dispensasi) bagi dirinya. Akhirnya orang ini pun mandi, dan ia pun meninggal. Karena ketidaktahuannya tentang suatu hal yang mendasar bagi seorang muslim, yaitu bagaimana cara seorang muslim harus bersuci, kapan dia harus mandi dan bertayammum, akhirnya … keadaan naas pun menimpanya.
Demikian pula, seorang yang tidak menuntut ilmu agama pada hakekatnya dia bagaikan jasad yang tidak bernyawa. Hal ini dikarenakan ilmu agama adalah nutrisi bagi hati yang menentukan keberlangsungan hidup hati seorang. Seorang yang tidak memahami agamanya, dia layaknya sebuah mayat meski jasadnya hidup. Tidak heran jika al Imam asy Syafi’i rahimahullah sampai mengatakan,
مَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً          تَجَرَّعَ ذُلُّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ
وَ مَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ         فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ
Barangsiapa yang tidak pernah mencicipi pahitnya belajar
Maka dia akan meneguk hinanya kebodohan di sepanjang hidupnya
Barangsiapa yang tidak menuntut ilmu di masa muda
Maka bertakbirlah empat kali, karena sungguh dirinya telah wafat (Diwan al Imam asy Syafi’i, Dar al Kutub al ’Ilmiyah).
Urgensi Menuntut Ilmu Agama
Wasiat Amir al-Mukminin, Ali radhiallahu anhu di atas pada dasarnya menghasung kita sebagai umat Islam untuk mempelajari agama ini dengan benar, karena diri kita sangatlah butuh akan ilmu agama ini.
Al Imam Ahmad rahimahullah mengatakan,
الناس محتاجون إلى العلم قبل الخيز و الماء لأن العلم محتاجون إليه الإنسان في كل ساعة و الخبز و الماء في اليوم مرة أو مرتين
“Manusia sangat membutuhkan ilmu melebihi kebutuhan terhadap roti dan air, karena ilmu dibutuhkan manusia di setiap saat. Sedangkan roti dan air hanya dibutuhkan manusia sekali atau dua kali” (Al Adab asy Syar’iyyah 2/44-45).
Faktor yang membuat kita memahami urgensi menuntut ilmu syar’i di saat ini adalah jika kita mengamati realita keagamaan di sekitar kita. Jika kita mau mengamati, betapa banyak pada zaman sekarang orang-orang yang berbicara tentang agama Allah ini tanpa dilandasi dengan ilmu.
Mantan artis yang baru saja berkubang dengan kemaksiatan, kemudian merubah penampilan sehinga nampak shalih dijadikan ikon keshalihan dan dijadikan tempat bertanya mengenai permasalahan agama. Seorang yang tidak pernah mengenyam pendidikan agama secara formal, tidak memiliki background pendidikan agama, tidak tahu bahasa Arab, tidak menghafal al Qur-an begitupula tidak tahu-menahu mengenai hadits-hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimintai pendapatnya dalam permasalahan agama.
Sungguh benar apa yang disabdakan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, beliau telah mensinyalir hal ini akan terjadi dalam sebuah haditsnya,
سيأتي على الناس سنوات خداعات يصدق فيها الكاذب ويكذب فيها الصادق ويؤتمن فيها الخائن ويخون فيها الأمين وينطق فيها الرويبضة . قيل وما الرويبضة ؟ قال : الرجل التافه ؛ يتكلم في أمر العامة
“Akan datang tahun-tahun yang dipenuhi penipuan. Pada saat itu, seorang pendusta justru dibenarkan dan seorang yang jujur malah didustakan. Seorang pengkhianat malah dipercaya dan seorang yang amanah malah dikhianati. Pada saat itu, ar-ruwaibidhah akan angkat bicara. Para sahabat bertanya, “Apa ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Ar-rumwaibidhah adalah seorang yang (pada hakekatnya) dungu, namun berani bicara mengenai urusan umat.” (Ash-Shahihah nomor 1887).
Begitupula jika kita menyimak firman Allah yang mencela kebodohan seorang terhadap agama-Nya, maka kita akan memahami bahwa setiap muslim dituntut untuk mengetahui perkara agama. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٦)يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (Ar Ruum: 6-7).
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,
أي: أكثر الناس ليس لهم علم إلا بالدنيا وأكسابها وشؤونها وما فيها، فهم حذاق أذكياء في تحصيلها ووجوه مكاسبها، وهم غافلون عما ينفعهم في الدار الآخرة، كأن أحدهم مُغَفّل لا ذهن له ولا فكرة
“Maksudnya kebanyakan manusia tidak memiliki pengetahuan melainkan tentang dunia dan pergulatan serta kesibukannya, juga segala apa yang di dalamnya. Mereka cukup cerdas untuk mencapai dan menggeluti berbagai kesibukan dunia, tetapi mereka lalai terhadap urusan akhirat dan berbagai hal yang bermanfaat bagi mereka di alam akhirat, seakan-akan seorang dari mereka lalai, tidak berakal dan tidak pula memikirkan (perkara akhiratnya)”
Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan,
>والله لَبَلَغَ من أحدهم بدنياه أنه يقلب الدرهم على ظفره، فيخبرك بوزنه، وما يحسن أن يصلي
“Demi Allah, seorang dari mereka akan berhasil menggapai dunia, dimana ia bisa membalikkan dirham di atas kukunya, lalu dia mampu memberitahukan anda tentang beratnya. Namun dia tidak becus dalam mengerjakan shalat”
Dampak dari kebodohan terhadap agama Allah adalah berkurangnya keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Seorang muslim yang ‘alim terhadap perkara agama akan mengetahui berbagai perkara yang dapat mengundang keridlaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap dirinya, dan begitupula ia akan mengetahui berbagai perkara yang dapat mengundang kemurkaan Allah sehingga ia dapat menjauhinya.
Berbeda halnya dengan seorang muslim yang tidak tahu perkara agama, karena ketidaktahuan dirinya dan sedikitnya ilmu agama yang ia miliki terkadang ia menerjang kemaksiatan, mendahulukan perkara-perkara yang tidak penting, atau rela menjual agamanya demi mendapatkan dunia. Dia tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah, sehingga terkadang orang yang jahil terhadap agama, akan menyembah Allah sekenanya saja, ia tidak terlalu mempedulikan apakah ibadah yang ia lakukan telah diterima oleh Allah.
Terkadang, dia beranggapan bahwa ibadahnya telah diterima, sehingga dirinya sangat minim untuk menginstropeksi berbagai amalan yang ia lakukan dan mengukurnya dengan barometer syari’at, dengan barometer yang ditetapkan oleh Allah ta’ala. Hal ini dikarenakan barometer yang ada pada dirinya telah terbalik.
Berdasarkan hal ini, kita dapat menyimpulkan bahwa ilmu agama merupakan sumber dari setiap kebaikan, sedangkan kebodohan terhadap agama ini merupakan sumber dari setiap keburukan.
Jika kita menyimak ayat-ayat Al Qur-an, maka kita pun akan menemukan bahwa berbagai bentuk kesyirikan –yang notabene adalah dosa terbesar- dan kemaksiatan bersumber dari ketidaktahuan seorang terhadap perkara agamanya. Diantaranya adalah firman Allah ta’ala,
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
“Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Rabb)” (Al A’raaf: 138).
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ (٥٤)أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
“Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?” “Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)” (An Naml 54-55).
Coba anda perhatikan kedua ayat di atas, bukankah permintaan Bani Israil kepada nabi Musa ‘alaihis salam agar dibuatkan sesembahan (berhala) dan tindakan homoseks kaum nabi Luth berangkat dari ketidaktahuan mereka terhadap agama? Oleh karenanya, nabi Musa dan Luth menyatakan bahwa mereka adalah kaum yang jahil!
Oleh karena itu, setiap orang wajib untuk menuntut ilmu agama. Siapa pun dia, apa pun profesinya wajib menuntut ilmu agama untuk menghadapi dan melepaskan diri dari berbagai fitnah yang akan dia temui di dunia.
Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya dan umat beliau yang berjalan di atas sunnah beliau.
***
»»  READMORE...

RACUN PERTAMA

Empat Racun Hati

Racun Pertama: Banyak Bicara

Lidah mempunyai pengaruh yang sangat besar, keimanan dan kekafiran bisa tampak melalui lidah (syahadat).Barangsiapa melepaskan tali kendali lidahnya, maka setanpun akan memperdayanya dari segala penjuru sehingga menggiringnya menuju ujung jurang kemudian menjatuhkannya sampai ke dasar.

Dari Mu?adz Radhiallahu Anhu, dari Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam bersabda :?Dan tiadalah menelungkupkan wajah atau batang hidung manusia ke dalam api neraka melainkan hasil ulah lidahnya.? (HR AtTirmidzi, Ibnu Majah, dan AlHakim ,sahih.)

Banyak sekali ayat Al-Qur?an dan sabda Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam serta ucapan Salafus Shaleh Rahimahumullah yang memperingatkan kita dari bahaya dan kerusakan lidah, diantaranya firman Allah Subhanahu Wa Taala:?Tiadalah suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.?(Q.S.Qaaf:18).

Dari Sufyan bin Abdillah AtsTsaqafi Rahimahullah berkata: Aku bertanya, Ya Rasulullah apakah yang paling Anda takutkan terhadap diri saya.? Beliau Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam bersabda: ?Ini?, sambil memegang lidahnya.? (HR.AtTirmidzi,Ibnu Majah,AdDarimi dan AlHakim,sahih).

Dari Uqbah bin Amir Radhiallahu Anhu berkata: Aku bertanya, Ya Rasulullah apakah keselamatan itu ? Beliau bersabda: ?Peliharalah lidahmu.?(HR.AtTirmidzi,Ahmad,Ibnu AlMubarak, sahih).

Beliau Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam bersabda pula: ?Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.?(HR.Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwasanya beliau mendengar Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam bersabda: ?Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan sebuah pembicaraan yang tidak jelas (ia anggap biasa), ternyata hal itu membuat ia tergelincir ke dalam api neraka lebih jauh dari jarak timur dan barat.?(HR.Bukhari dan Muslim).

Dari Abdullah bin Mas?ud Radhiallahu Anhu berkata: ?Demi Allah yang tiada tuhan pantas di sembah selain Dia, tiadalah sesuatu yang lebih patut untuk di penjara lebih lama dari lidahku.?

Beliau Radhiallahu Anhu, juga berkata: ?Wahai lidah, berkatalah yang baik kamu akan untung dan diamlah dari yang buruk kamu akan selamat, sebelum kamu menyesal !.?

Dari Abu Darda Radhiallahu Anhu, berkata: ?Berlakulah adil terhadap dua telinga dari lidah, dijadikan untuk anda dua telinga dan satu lidah supaya anda lebih banyak mendengar daripada berbicara,?

Bencana lidah yang paling ringan adalah berbicara tentang sesuatu yang tidak berfaedah...(Bersambung)
***
»»  READMORE...

Sampai Kapan Kelalaian Ini Berakhir

Sesungguhnya ghaflah (lalai, terlena) adalah racun yang sangat mematikan, dan penyakit yang sangat berbahaya, yang dapat menguasai hati, merasuk mencengkram jiwa, serta menawan/melumpuhkan angota badan.

Saat ini kebanyakan manusia hidup dalam kelalaian yang nyata dari (mengingat) Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kampung akhirat. Dunia dan seluruh perhiasannya telah menjebak mereka, angan-angan tak karuan sudah menipunya, dan mereka telah disetir oleh keinginan-keinginan jelek, setan serta hawa nafsu yang selalu menyuruh kepada perbuatan tercela, namun dengan ini semua mereka masih mengira bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya perbuatan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinya: "Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)." (Al Anbiyaa' :1)

Mayoritas manusia dalam keadaan lalai

Al Imam Ibnu Al Qayyim rahimahullah berkata: Dan barangsiapa memperhatikan keadaan manusia, maka dia pasti dapatkan mereka seluruhnya –kecuali sedikit saja- merupakan golongan orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala, mereka mengikuti hawa nafsunya, sehingga urusan-urusan dan kepentingan mereka terabaikan, yaitu mereka kurang perhatian terhadap hal-hal yang mendatangkan manfaat dan membawa kemashlahatan baginya, sedang mereka menyibukan diri dengan hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat baginya, bahkan justru mendatangkan malapetaka bagi mereka, baik sekarang maupun di masa mendatang.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinya: "Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman-walaupun kamu sangat menginginkannya." (Yusuf: 103)
Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala, artinya: "Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. (Al An'am : 116)
Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala, artinya: "Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." (Yunus : 92)

Namun apakah lalainya kebanyakan manusia dari Allah dan dari hari kemudian itu merupakan hujjah bagi orang-orang yang lengah dan suka main-main ? Sama sekali tidak…..Itu bukan hujjah bagi mereka, bahkan menjadi hujjah atas mereka, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengutus para Rasul, mereka mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala saja yang tidak ada sekutu baginya, dan meninggalkan jalan-jalan kelengahan dan kesesatan, begitu juga Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menurunkan kitab-kitab yang di dalamnya mengandung peringatan dari sikap lalai dan semua pintu-pintunya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinya: "Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hati-mu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai ." (Al Araf : 205)

Al Imam Abu Muhammad Al Qushariy berkata : Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melarang manusia berbuat lalai, dan Dia telah memerintahkan agar selalu mengingat-Nya setiap saat, Dia berfirman, artinya: "Berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dzikir yang sebanyak-banyaknya." (Qs: Al-Ahzab: 41)
Dan berfirman, artinya: "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring" (Qs: Ali Imran: 191)

Siksa bagi orang yang lalai

Orang-orang yang lalai mendapatkan sangsi di dunia dan sangsi di akhirat:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang ummat Nabi Musa as tatkala mereka mendustakan dan menyakitinya, artinya: "Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggalamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu." (Qs: Al-A'raf: 136)

Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan neraka Jahannam yaitu tempat siksaan di akhirat sebagai tempat kembali dan tempat tinggal bagi orang-orang yang lalai, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman, artinya: "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manuia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunaknnya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Qs: Al-A'raf:179)

Ayat ini menjelaskan bahwa tempat akhir orang-orang yang lalai adalah Jahannam disebabkan mereka memiliki hati, namun hatinya sangat keras, tidak pernah tersentuh dan terenyuh, serta tidak tergerak sedikitpun dengan mau'idhah (wejangan), dia bagaikan batu, bahkan lebih keras.

Mereka memiliki mata yang mampu melihat pemandangan dhahir (luar) segala sesuatu, namun tidak mampu melihat dengannya hakikat segala urusan, dan tidak mampu dengannya membedakan antara yang bermanfaat dengan yang membahayakan.

Dan mereka memiliki telinga yang dengannya mereka mendengarkan suara-suara kebatilan, seperti dusta, nyanyian, kata-kata kotor, ghibah, dan namimah, dan mereka tidak mengambil manfaat dengannya dalam mendengarkan hal yang benar dan jujur yang berupa kitab Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sunnah Rasul-Nya Shallallaahu alaihi wa Sallam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. Mereka itu tempatnya ialah neraka disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan." (Yunus : 7-8)
Dan Dia Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang adzab orang-orang yang lalai di Jahannam, "Dan telah dekat kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir. (Mereka berkata), "Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang dzalim. Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya." ( Al Anbiya : 97-98)

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga memberitahukan bahwa kelalaian itu bila telah menguasai hati menyebabkan seseorang ridla dengan kekufuran, dadanya merasa tenteram dengannya, pintu-pintu hidayah tertutup, dan terkuncilah hati itu, wal 'iyadzu billah, sehingga taubat dan hidayah sangat sulit tercapai, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinya: "Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasannyAllah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran, dan penglihatan-nya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai." (An Nahl :106-108)

Lalai sebab segala kejelekan

Al Imam Ibnu Al Qayyim berkata : Dan lalai dari (mengingat) Allah Subhanahu wa Ta'ala dan hari kemudian bila berpasangan dengan mengikuti hawa nafsu maka terlahirlah dari keduanya segala macam keburukan, dan umumnya bergabung antara keduanya dan tidak pernah terpisahkan.
Barang siapa memperhatikan kerusakan situasi alam ini, secara umum maupun khusus maka dia bakal mendapatkannya sebagai akibat dari kedua hal ini.

Kelalaian menjadi penghalang antara seseorang dengan kemampuan memandang kebenaran, mengetahuinya, dan memahaminya, sehingga ia termasuk dalam jajaran orang-orang yang sesat.

Tanda-tanda lalai

Saudaraku tercinta, lalai itu memiliki banyak tanda, dikala kita melihat salah satunya ada dalam diri kita, maka ketahuilah sesungguhnya kita dalam bahaya, cepatlah koreksi diri, kejarlah ketinggalan, dan mulailah menanggulangi tanda-tanda ini dengan cara-cara yang disyari'atkan agar kita mampu melepaskan diri dari cengkaramannya sepanjang masa. Dan di antara-tanda itu adalah :

• Menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan inilah fenomena kelalaian yang paling besar.
• Kufur, fasiq, dan nifaq.
• Melakukan perbuatan-perbuatan keji, seperti zina, sodomi, minum-minuman keras, dan lain sebagainya.
• Menyia-nyiakan shalat, dan menye-pelekan waktu-waktunya, serta (meninggalkan)mendirikannya secara berjamaah di mesjid.
• Sedikit mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala.
• Sedikit membaca Al Qur'an.
• Meninggalkan berdoa, dan berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
• Mencintai dunia, dan menyibukan diri untuk mengumpulkannya dengan berbagai cara.
• Tasyabbuh (menyerupai) dengan musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik dalam hal pakaian, cara hidup, dan penampilan.
• Berteman dengan orang-orang jahat, dan orang yang tidak mau mengingatkannya kepada Allah.
• Menyia-nyiakan waktu dalam hal yang bukan termasuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
• Terlalu banyak makan, minum, tidur, dan bergaul, karena itu semua menyebabkan rusaknya hati dan malasnya anggota badan dari melaksanakan berbagai macam ketaatan.
• Mendengarkan lagu-lagu, dan menonton siaran parabola yang beracun.
• Tidak hati-hati dalam segala hal yang berkaitan dengan halal dan haram.
• Melanggar keharaman-keharaman yang nampak, seperti mempergunakan narkoba, laki-laki mengisbalkan pakaiannya dan mencukur jenggot, wanita ber-tabarruj dan keluar dengan bersolek serta memakai wangi-wangian, dan lain sebagainya.

Disarikan dari nasrah Darul Wathan, "Ila mata al ghaflah"
***
»»  READMORE...

Hati Adalah Pemimpin

Oleh: Abdullah Saleh Hadrami

Peran hati terhadap seluruh anggota badan ibarat raja terhadap para prajuritnya. Semua bekerja atas dasar perintahnya dan tunduk kepadanya. Di kemudian hari hati akan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.

Allah Ta?ala berfirman : ?Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.? (Surat 16 Al-Israa? (Memperjalankan Di Malam Hari) Ayat 36)

Rasulullah ?Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda : ?Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati.?(HR Bukhari dan Muslim)

Maka, memperhatikan dan meluruskan hati merupakan perkara yang paling utama untuk diseriusi oleh orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah. Demikian pula dengan mengkaji penyakit-penyakit hati dan metode mengobatinya merupakan bentuk ibadah yang utama bagi ahli ibadah.

Hatimu Saudaraku, semoga Allah memberkatimu?

Jangan kotori hatimu?Hati yang kotor tidak akan pernah sampai kepada Allah?Hati yang kotor tidak akan pernah hidup bahagia?Hati adalah segala-galanya?Seorang ahli ibadah yang hatinya kotor, kelak dilempar ke neraka?Ibadah tidak merubahnya?Ibadah tidak berguna bagi mereka?Amalan hati lebih penting daripada amalan badan, walau keduanya sama penting?Semoga hati kita benar-benar menjadi pemimpin yang baik dan bertangung jawab?
***
»»  READMORE...

MACAM-MACAM HATI

Oleh: Abdullah Saleh Hadrami

Hati itu bisa hidup dan bisa mati. Sehubungan dengan itu, hati dapat dikelompokkan menjadi :

Hati yang sehat.
Hati yang mati.
Hati yang sakit.

HATI YANG SEHAT

Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Allah Ta?ala berfirman : ?Adalah hari (kiamat) yang mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. ? (Q.S. Asy-Syu?ara :88-89).

Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah Ta?ala dan dari setiap syubhat, ketidakjelasan yang menyeleweng dari kebenaran. Inilah yang disebut dengan Qolbun Salim.

HATI YANG MATI

Allah Ta?ala berfirman: ?Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.? (QS. Al-Baqarah: 7).

Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal Rabbnya dan selalu berjalan bersama hawa nafsu dan kenikmatan duniawi, walaupun itu dibenci dan dimurkai Allah. Hawa nafsu telah menjadi pemimpin dan pengendali baginya dan lebih ia cintai dari pada keridhaan Allah. Bergaul dengan orang yang hatinya mati ini adalah penyakit, berteman dengannya adalah racun, dan bermajelis dengan mereka adalah bencana.

HATI YANG SAKIT

Allah Ta?ala berfirman: ?Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.? (QS. Al-Baqarah: 10).

Hati yang sakit adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit. Ia akan mengikuti unsur yang kuat. Ia berada diantara dua penyeru : penyeru kepada kebaikan dan penyeru kepada keburukan. Seruan yang akan disambutnya adalah seruan yang paling dekat dan paling akrab...

TERMASUK YANG MANAKAH HATI KITA ?
***
»»  READMORE...

EMPAT RACUN HATI

Oleh: Abdullah Shaleh Al-Hadrami

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta?ala, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala ?Alihi Wa Sallam , keluarga, para sahabat dan pengikut setia mereka sampai hari kiamat, Amma ba?du:

Allah Subhanahu Wa Ta?ala berfirman : ?Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.?(Q.S. Al-Isra?: 36)

Sesuatu yang paling mulia pada diri manusia adalah hatinya. Peran hati terhadap seluruh anggota badan ibarat raja terhadap para prajuritnya. Semua bekerja atas dasar perintahnya dan tunduk kepadanya. Di kemudian hari hati akan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.

Rasulullah Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala ?Alihi Wa Sallam bersabda : ?Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati.?(HR Bukhari dan Muslim)
Abu Hurairah Radhiallahu ?Anhu berkata: ?Hati adalah raja anggota tubuh, dan anggota tubuh adalah para prajuritnya. Apabila raja baik maka baik pulalah para prajuritnya dan apabila raja busuk maka busuk pulalah para prajuritnya.?

Hati adalah raja. Seluruh tubuh adalah pelaksana semua titahnya yang selalu siap untuk menerima arahannya. Aktivitasnya tidak dinilai benar jika tidak diniatkan dan dimaksudkan oleh sang hati. Dikemudian hari, hati akan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.

Maka, memperhatikan dan meluruskan hati merupakan perkara yang paling utama untuk diseriusi oleh orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah Subhanahu Wa Ta?ala. Demikian pula dengan mengkaji penyakit-penyakit hati dan metode mengobatinya merupakan bentuk ibadah yang utama bagi ahli ibadah.

Perumpamaan hati itu seperti sebuah benteng. Sedangkan syetan adalah musuh yang hendak masuk ke dalam benteng itu, hendak menguasai dan merebutnya. Benteng tidak akan terlindungi kecuali dengan menjaga pintu-pintunya. Orang yang tidak mengetahui pintu-pintu itu tidak akan bisa menjaganya. Jadi seseorang tidak bisa mengusir syetan kecuali dengan mengetahui pintu-pintu masuk yang dilewati syetan. Pintu-pintu masuk itu adalah sifat-sifat manusia yang jumlahnya sangat banyak, dan kami akan sebutkan empat pintu masuk syetan yang paling banyak tersebar dan berbahaya.

Ketahuilah, hati dapat rusak sebagaimana halnya badan dan setiap kemaksiatan adalah racun hati. Ia menjadi penyebab sakit dan kehancurannya, memalingkan dari kebaikan, dan menambah parah penyakitnya.

Hati adalah pusat ilmu dan ketakwaan, cinta dan benci, keragu-raguan dan bencana. Dialah yang tahu tentang Allah Subhanahu Wa Ta?ala, yang menuju kepadaNya, dan anggota tubuh ini tidak lain hanyalah mengikuti dan berkhidmat kepadanya.

Para salaf memperoleh kemenangan yang besar dan sangat unggul tidak lain karena kualitas mereka dalam ibadah-ibadah hati. Keistimewaan mereka dalam hal ini tidak ada tandingannya.

Abdullah bin Mubarak Rahimahullah berkata:
Kulihat dosa-dosa itu mematikan hati
Membiasakannya mengakibatkan kehinaan
Meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati
Selalu menjauhinya adalah yang terbaik bagi anda.

Allah Subhanahu Wa Ta?ala berfirman : ?Adalah hari (kiamat) yang mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. ? (Q.S. Asy-Syu?ara :88-89)

Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah  dan dari setiap syubhat, ketidakjelasan yang menyeleweng dari kebenaran.

Maka barangsiapa menginginkan keselamatan dan kehidupan bagi hatinya, hendaklah ia membersihkan hatinya dari pengaruh racun-racun itu. Kemudian menjaganya jangan sampai ada racun lain mengotorinya. Adapun jika tanpa sengaja ia mengambil salah satunya, ia mesti bersegera untuk membuangnya dan menghapus pengaruhnya dengan cara bertaubat, beristighfar dan mengerjakan amal shalih yang dapat menghapus kesalahan.

Yang dimaksud dengan empat racun hati adalah:
-banyak bicara
-banyak memandang
-banyak makan dan minum
-banyak bergaul dengan sembarang orang
Keempat racun ini adalah yang paling banyak tersebar dan paling berbahaya bagi kehidupan hati....(Bersambung di postingan selanjutnya)
***
»»  READMORE...

Mengapa Hati Keras Membatu ?

Hati adalah sumber penalaran, tempat pertimbangan, tumbuhnya cinta dan benci, keimanan dan kekufuran, taubat dan keras kepala, ketenangan dan kegoncangan.

Hati juga sumber kebahagiaan, jika kita mampu membersihkannya, namun sebaliknya merupakan sumber bencana jika menodainya. Aktivitas badan sangat tergantung lurus bengkoknya hati. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu berkata, "Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentara. Jika raja itu bagus, maka akan bagus pula tentaranya. Jika raja itu buruk, maka akan buruk pula tentaranya."

Tanda-Tanda Kerasnya Hati

Hati yang keras memiliki tanda-tanda yang bisa dikenali, di antara yang terpenting sebagai berikut :

• Malas Melakukan Kataatan dan Amal Kebaikan
Terutama malas untuk menjalankan ibadah, bahkan mungkin meremehkan nya, melakukan shalat asal-asalan tanpa ada kekhusyukan dan kesungguhan, merasa berat dan enggan, merasa berat pula menjalankan ibadah-ibadah sunnah. Allah telah menyifati kaum munafiqin. Firman-Nya, artinya,
“Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (At-Taubah : 54)

• Tidak Tersentuh Oleh Ayat Al-Qur'an dan Petuah
Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ancaman Allah, maka tidak terpengaruh sama sekali, tidak mau khusyu' atau tunduk, dan juga lalai dari membaca al-Qur'an serta mendengarkannya, bahkan enggan dan berpaling darinya. Sedang kan Allah Subhannahu wa Ta'ala telah memperingatkan, artinya,
“Maka beri peringatanlah dengan al-Qur'an orang yang takut kepada ancaman-Ku.” (Qaaf : 45)

• Tidak Tersentuh dengan Ayat Kauniyah
Tidak tergerak dengan adanya peristiwa-peristiwa yang dapat memberikan pelajaran, seperti kematian, sakit, bencana dan semisalnya. Dia memandang kematian atau orang yang sedang diusung ke kubur sebagai sesuatu yang tidak ada apa-apanya, padahal cukuplah kematian itu sebagai nasihat.
“Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (At-Taubah :126)

• Berlebihan Mencintai Dunia dan Melupakan Akhirat
Himmah dan segala keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata. Segala sesuatu ditimbang dari sisi dunia dan materi. Cinta, benci dan hubungan dengan sesama manusia hanya untuk urusan dunia saja. Ujungnya, jadilah dia seorang yang dengki, egois dan individualis, bakhil dan tamak terhadap dunia.

• Kurang Mengagungkan Allah.
Sehingga hilang rasa cemburu dalam hati, kekuatan iman melemah, tidak marah ketika larangan Allah diterjang, serta tidak mengingkari kemungkaran. Tidak mengenal yang ma'ruf serta tidak peduli terhadap segala kemaksiatan dan dosa.

• Kegersangan Hati
Kesempitan dada, mengalami kegoncangan, tidak pernah merasakan ketenangan dan kedamaian sama sekali. Hatinya gersang terus-menerus dan selalu gundah terhadap segala sesuatu.

• Kemaksiatan Berantai
Termasuk fenomena kerasnya hati adalah lahirnya kemaksiatan baru akibat dari kemaksiatan yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga menjadi sebuah lingkaran setan yang sangat sulit bagi seseorang untuk melepaskan diri.

Sebab-Sebab Kerasnya Hati

Di antara faktor kerasnya hati, yang penting untuk kita ketahui yakni:

• Ketergantungan Hati kepada Dunia serta Melupakan Akhirat
Kalau hati sudah keterlaluan mencintai dunia melebihi akhirat, maka hati tergantung terhadapnya, sehingga lambat laun keimanan menjadi lemah dan akhirnya merasa berat untuk menjalankan ibadah. Kesenangannya hanya kepada urusan dunia belaka, akhirat terabaikan dan bahkan ter-lupakan. Hatinya lalai mengingat maut, maka jadilah dia orang yang panjang angan-angan.
Seorang salaf berkata, "Tidak ada seorang hamba, kecuali dia mempunyai dua mata di wajahnya untuk memandang seluruh urusan dunia, dan mempunyai dua mata di hati untuk melihat seluruh perkara akhirat. Jika Allah menghendaki kebaikan seorang hamba, maka Dia membuka kedua mata hatinya dan jika Dia menghendaki selain itu (keburukan), maka dia biarkan si hamba sedemikian rupa (tidak mampu melihat dengan mata hati), lalu dia membaca ayat, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci.” (Muhammad : 24)

• Lalai
Lalai merupakan penyakit yang berbahaya apabila telah menjalar di dalam hati dan bersarang di dalam jiwa. Karena akan berakibat anggota badan saling mendukung untuk menutup pintu hidayah, sehingga hati akhirnya menjadi terkunci. Allah berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itu lah orang-orang yang lalai” (QS.16:108)

Allah Subhannahu wa Ta'ala memberitahukan, bahwa orang yang lalai adalah mereka yang memiliki hati keras membatu, tidak mau lembut dan lunak, tidak mempan dengan berbagai nasehat. Dia bagai batu atau bahkan lebih keras lagi, karena mereka punya mata, namun tak mampu melihat kebenaran dan hakikat setiap perkara. Tidak mampu membedakan antara yang bermanfaat dan membahayakan. Mereka juga memiliki telinga, namun hanya digunakan untuk mendengarkan berbagai bentuk kebatilan, kedustaan dan kesia-siaan. Tidak pernah digunakan untuk mendengarkan al-haq dari Kitabullah dan Sunnah Rasul Shalallaahu alaihi wasalam (Periksa QS. Al A'raf 179)

• Kawan yang Buruk
Ini juga merupakan salah satu sebab terbesar yang mempengaruhi kerasnya hati seseorang. Orang yang hidupnya di tengah gelombang kemaksiatan dan kemungkaran, bergaul dengan manusia yang banyak berku-bang dalam dosa, banyak bergurau dan tertawa tanpa batas, banyak mendengar musik dan menghabiskan hari-harinya untuk film, maka sangat memungkinkan akan terpengaruh oleh kondisi tersebut.

• Terbiasa dengan Kemaksiatan dan Kemungkaran
Dosa merupakan penghalang seseorang untuk sampai kepada Allah. Ia merupakan pembegal perjalanan menuju kepada-Nya serta membalikkan arah perjalanan yang lurus.
Kemaksiatan meskipun kecil, terkadang memicu terjadinya bentuk kemaksiatan lain yang lebih besar dari yang pertama, sehingga semakin hari semakin bertumpuk tanpa terasa. Dianggapnya hal itu biasa-biasa saja, padahal satu persatu kemaksiatan tersebut masuk ke dalam hati, sehingga menjadi sebuah ketergantungan yang amat berat untuk dilepaskan. Maka melemahlah kebesaran dan keagungan Allah di dalam hati, dan melemah pula jalannya hati menuju Allah dan kampung akhirat, sehingga menjadi terhalang dan bahkan terhenti tak mampu lagi bergerak menuju Allah.

• Melupakan Maut, Sakarat, Kubur dan Kedahsyatannya.
Termasuk seluruh perkara akhirat baik berupa adzab, nikmat, timbangan amal, mahsyar, shirath, Surga dan Neraka, semua telah hilang dari ingatan dan hatinya.

• Melakukan Perusak Hati
Yang merusak hati sebagaimana dikatakan Imam Ibnul Qayyim ada lima perkara, yaitu banyak bergaul dengan sembarang orang, panjang angan-angan, bergantung kepada selain Allah, berlebihan makan dan berlebihan tidur.

Solusi

Hati yang lembut dan lunak merupakan nikmat Allah yang sangat besar, karena dia mampu menerima dan menyerap segala yang datang dari Allah. Allah mengancam orang yang berhati keras melalui firman-Nya,
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah.Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Az-Zumar: 22)

Di antara hal-hal yang dapat membantu menghilangkan kerasnya hati dan menjadikannya lunak, lembut dan terbuka untuk menerima kebenaran dari Allah yakni:

• Ma'rifat (mengenal) Allah
Siapa yang kenal Allah, maka hatinya pasti akan lunak dan lembut, dan siapa yang jahil terhadap-Nya, maka akan keras hatinya. Semakin bodoh seseorang terhadap Allah, maka akan semakin berani melanggar batasan-Nya. Dan semakin seseorang berfikir tentang Allah, maka semakin sadar akan kebesaran Allah, keluasan nikmat serta kekuasaan Nya.

• Mengingat Maut
Pertanyaan kubur, kegelapannya, sempit dan sepinya, juga penderitaan menjelang sakaratul maut termasuk ke dalam mengingat maut. Memperhatikan pula orang-orang yang telah mendekati kematian dan menghadiri jenazah. Hal itu dapat membangunkan ketertiduran hati kita, dan mengingatkan dari keterlenaan. Sa’id bin Jubair berkata, "Seandainya mengingat mati lepas dari hatiku, maka aku takut kalau akan merusak hatiku."

• Berziarah Kubur dan Memikirkan Penghuninya.
Bagaimana mereka yang telah ditimbun tanah, bagaimana mereka dulu makan, minum dan berpakaian dan kini telah hancur di dalam kubur, mereka tinggalkan segala yang dimiliki, harta, kekuasaan maupun keluarga, lalu ingat dan berfikir, bahwa sebentar lagi dia juga akan mengalami hal yang sama.

• Memperhatikan Ayat-ayat Al- Qur'an.
Memikirkan ancaman dan janjinya, perintah dan larangannya. Karena dengan memikirkan kandungannya, maka hati akan tunduk, iman akan bergerak mendorong untuk berjalan menuju Rabbnya, hati menjadi lunak dan takut kepada Allah.

• Mengingat Akhirat dan Kiamat
Huru-hara dan kedahsyatannya, Surga dengan kenimatannya, neraka dengan penderitaannya yang disediakan bagi para pelaku dosa dan kemaksiatan.

• Memperbanyak Dzikir dan Istighfar
Dzikir dapat melunakan hati yang keras. Karena itu selayaknya seorang hamba mengobati hatinya dengan berdzikir kepada Allah, sebab ketika kelalaian bertambah, maka kekerasan hati makin memuncak pula.

• Mendatangi Orang Shalih dan Bergaul dengen Mereka.
Orang shaleh akan memberikan semangat ketika kita lemah, mengingatkan ketika lupa, dan memberikan jalan ketika kita bingung dan pertemuan dengan mereka akan membantu kita dalam melakukan ketaatan kepada Allah

• Berjuang, Introspeksi dan Melihat Kekurangan Diri.
Manusia, jika tidak mau berjuang, introspeksi dan melihat kekurangan diri, maka dia tidak tahu, bahwa dirinya sakit dan banyak kekurangan. Jika dia tidak merasa sakit atau punya kekurangan, maka bagaimana mungkin dia akan memperbaiki diri atau berobat?

Wallahu a’lam, semoga Allah Subhannahu wa Ta'ala melunakkan hati kita semua untuk menerima dan menjalankan kebenaran, amin ya Rabbal ‘alamin.
Sumber : Kutaib “Limadza Taqsu Qulubuna” Al-Qism al-Ilmi Darul Wathan. [alsofwa]
***
»»  READMORE...

AIR MATA ORANG-ORANG SHALIH

Dari Sufyan ats-Tsauri -Rahimahullah bahwa ia berkata, "Aku menemui Ja'far ash-Shadiq -Rahimahullah lalu aku katakan kepadanya, 'Wahai putra Rasulullah, berwasiatlah kepadaku!'
Beliau berkata:
"Wahai Sufyan, orang yang banyak dusta tidak punya harga diri,
orang yang banyak dengki tidak memiliki ketentraman,
orang yang suka bosan tidak punya saudara,
dan orang yang buruk akhlaknya tidak punya penolong."
Aku berkata, 'Wahai putra Rasulullah, tambahkan kepadaku.'
Beliau berkata:
"Wahai Sufyan, jauhilah hal-hal yang diharamkan Allah, maka kamu menjadi seorang 'abid (ahli ibadah).
Ridhalah dengan apa yang Allah bagikan kepadamu, maka kamu menjadi seorang muslim (yang sejati).
Pergaulilah manusia dengan apa yang kamu suka bila mereka memperlakukanmu, maka kamu menjadi seorang mukmin (yang sejati),
dan jangan bergaul dengan orang yang suka berbuat dosa sehingga ia mengajarkan perbuatan dosanya ke-padamu.
Seseorang itu tergantung agama kekasihnya. Oleh karena itu hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan, dengan siapakah ia bergaul.
Dan mintalah saran dalam urusanmu kepada orang-orang yang takut kepada Allah."
Aku berkata, 'Wahai putra Rasulullah, tambahkan kepadaku!'
Beliau berkata:
"Wahai Sufyan, barangsiapa yang ingin hidup mulia dengan tanpa sanak kerabat,
dan kewibawaan tanpa kekuasaan,
maka hendaklah ia keluar dari kehinaan kemaksiatan menuju kemuliaan ketaatan."
Aku katakan, 'Wahai putra Rasulullah, tambahkan kepadaku!'
Beliau berkata:
"Ayah mendidikku dengan tiga perkara, beliau berkata kepadaku, 'Wahai putraku, barang-siapa yang berteman dengan teman yang buruk maka ia tidak akan selamat,
barangsiapa yang memasuki gerbang keburukan maka ia akan dituduh (telah melakukan keburukan)
dan barangsiapa yang tidak bisa menahan lisannya maka ia akan menyesal'."

Zainal Abidin bin Ali bin al-Husain -Rahimahullah jika berwudhu dan selesai dari wudhunya, maka ia ketakutan. Ketika dia ditanya mengenai hal itu, maka dia menjawab, "Kasihan kalian, tahukah kalian kepada siapa aku akan berdiri dan kepada siapa aku hendak bermunajat?"

Al-Mughirah berkata, "Aku keluar pada suatu malam setelah manusia sudah tidur pulas. Ketika aku melewati Malik bin Anas RA, ternyata aku berdiri bersamanya untuk melaksa-nakan shalat. Ketika selesai dari membaca al-Fatihah, ia mulai membaca,
'Bermegah-megahan telah melalaikan kamu' (At-Takatsur: 1)

hingga sampai ayat,
'Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenik-matan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu),' (At-Taka-tsur: 8)

Maka ia menangis dalam waktu yang lama. Ia terus membacanya berulang-ulang dan menangis. Apa yang aku dengar dan aku lihat darinya telah melupakanku dari keperluanku yang karena-nya aku keluar. Aku masih tetap berdiri, sedangkan dia terus membacanya berulang-ulang sambil menangis hingga terbit fajar. Ketika ia mengetahui sudah fajar, maka ia rukuk. Kemudian aku pulang ke rumah, lalu berwudhu, lalu berangkat kembali ke masjid. Ternyata ia sedang berada di majelisnya dan orang-orang berada di sekitarnya. Pada pagi harinya, aku memandangnya. Ternyata aku melihat wajahnya telah diliputi cahaya dan ke-indahan."

Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa asy-Syafi'i suatu hari membaca firmanNya,
"Ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami mengumpulkan kamu dan orang-orang yang terdahulu. Jika kamu mempunyai tipu daya, maka lakukanlah tipu dayamu itu terhadapKu. Kece-lakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang men-dustakan." (Al-Mursalat: 38-40).

Maka ia terus menangis sampai pingsan; Semoga Allah merahmatinya.*
Umar bin Abdil Aziz RA berkata kepada seorang ulama, "Berilah nasihat kepadaku!" Ulama itu berkata, "Bertakwalah ke-pada Allah karena engkau akan mati." Umar berkata, "Tambah-kan kepadaku!" Ia berkata, "Tidak ada seorang pun dari nenek moyangmu hingga Adam melainkan telah merasakan kematian. Dan kini tiba giliranmu." Umar pun menangis karenanya.

Umar bin Abdil Aziz RA biasa mengumpulkan para ulama dan fuqaha' pada setiap malam untuk saling mengingatkan kematian dan Kiamat. Kemudian mereka menangis seolah-olah ada jenazah di tengah-tengah mereka.

Mu'adzah al-Adawiyyah RA** jika tiba siang hari, ia berkata, "Ini adalah hari di mana aku akan mati." Lalu ia tidak tidur hingga sore hari. Ketika tiba malam hari, ia berkata, "Ini adalah malam di mana aku akan mati." Lalu ia tidak tidur kecuali se-bentar. Ia shalat dan menangis hingga pagi. Ia pernah berkata, "Sungguh mengherankan bagi mata yang selalu tidur, padahal ia telah mengetahui akan adanya tidur panjang di dalam kubur yang gelap."

Hammad bin Salamah berkata, "Tsabit membaca,
'Apakah kamu kafir kepada (Rabb) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna,' (Al-Kahfi: 37)
pada shalat malam sambil menangis dan mengulang-ulangnya."***

Tsabit al-Bunani RA**** berkata, "Tidak ada sesuatu pun yang aku jumpai dalam hatiku yang lebih lezat daripada qiyamul lail. Seandainya kaum yang celaka mencobanya, niscaya mereka me-ngetahui rahasia kebahagiaan yang sebenarnya."

Hammad bin Zaid berkata tentang Tsabit al-Bunani, "Aku melihat Tsabit menangis hingga tulang-tulang rusuknya ber-selisih." Raghib al-Qathan menuturkan dari Bakr al-Muzani, "Barangsiapa yang ingin melihat orang yang paling gemar ber-ibadah di zamannya, maka lihatlah Tsabit al-Bunani."

Qatadah berkata, " Menjelang kematiannya,Amir bin Qais RA menangis. Ditanyakan kepadanya, 'Apakah yang membuat-mu menangis?' Ia menjawab, 'Aku tidak menangis karena ber-sedih terhadap kematian dan tidak pula karena menginginkan harta duniawi. Tetapi aku menangisi kehausan di tengah hari (yakni puasa) dan qiyamul lail."*****
Ibunya berkata kepadanya pada suatu hari, "Orang-orang sedang tidur, mengapa kamu tidak tidur?" Ia menjawab, "Neraka Jahanam tidak membiarkanku tidur."

Tsabit al-Bunani RA berkata, "Kami pernah menyaksikan beberapa jenazah, maka kami tidak menyaksikan mereka kecuali dalam keadaan menangis. Demikianlah rasa takut mereka kepada Allah SWT."

Ketika saudara Malik bin Dinar meninggal, Malik keluar mengikuti jenazahnya dengan menangis seraya berkata, "Demi Allah, aku tidak terhibur hingga aku tahu ke mana engkau kem-bali, dan aku tidak tahu selagi aku masih hidup."

Seorang shalih berkata, "Aku berjalan bersama Sufyan ats-Tsauri , tiba-tiba seorang pengemis datang kepadanya, sedangkan dia tidak memiliki sesuatu untuk diberikan, maka Sufyan me-nangis. Aku bertanya, 'Apakah yang membuatmu menangis?' Dia menjawab, 'Suatu musibah bila seseorang mengharapkan ke-baikan darimu tapi ia tidak mendapatkannya'."

CATATAN KAKI:

* Ibnu al-Atsir, Manaqib asy-Syafi'i, hal. 108
** Mu'adzah binti Abdillah al-Adawiyyah, adalah seorang wanita ahli ibadah sekaligus seorang ulama wanita dari Bashrah, dinilai tsiqah (dapat dipercaya) oleh Yahya bin Ma'in. Meninggal pada tahun 83 H. Lihat, Siyar A'lam an-Nubala', 4/ 508
*** Siyar A'lam an-Nubala', 5/ 224
**** Tsabit al-Bunani adalah seorang imam panutan, tabi'in, tsiqah, abid dan zahid, meninggal pada tahun 127 H. Lihat, Siyar A'lam an-Nubala', 5/ 220
***** Lihat, Siyar A'lam an-Nubala', 4/ 19 ...alsofwah.or.id
»»  READMORE...

 

Sepatah Kata

Selamat datang dan bergabung sahabat. Jazakallah khoir atas kunjungan sahabat.. Blog ini merupakan ungkapan murni hati ane sendiri tanpa melihat ide dan pikiran orang lain. Semuanya mengalir seperti air, semuanya adalah ekspresi diri, semuanya adalah Selengkapnya

Sepintas Tentang Penulis

Kehidupan manusia dipenuhi oleh banyak peristiwa cinta, senyum, kegembiraan, keceriaan, persahabatan, kebencian,kegalauan, kesedihan, kemurungan, permusuhan Selengkapnya

Info